CONTOH KASUS STRESS DI TEMPAT KERJA  

Posted by: Unknown

Seratusan buruh yang mengusung puluhan bendera dan spanduk serta pamflet berisikan tuntutan serta desakan terhadap Pemprov dan DPRD Kalbar tentang perbaikan nasib mereka. Sementara Ketua Kadinda Kalbar, pengusaha Budiono Tan, dan beberapa perusahaan dikecam para buruh. Salah satu tuntutan massa buruh ditujukan kepada Ketua Kadin Kalbar agar mencabut pernyataannya tentang pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ribuan buruh-buruh pertambangan, terkait jika diberlakukannya Peraturan Menteri ESDM No 07/2012. Tidak jelas bagaimana bentuk tuntutan serta pernyataan para buruh anggota KSBSI tersebut, namun mereka ingin kejelasan bagaimana soal PHK para buruh pertambangan di Kalbar. Sejauh ini belum tersiar kabar adanya perusahaan yang membredel atau membubarkan serikat pekerja. Namun para demonstran meminta pembredelan terhadap serikat buruh dihentikan. Terkait hal tersebut, KSBSI Kalbar mendesak adanya peraturan daerah (perda) tentang ketenagakerjaan di provinsi ini.
Problem yang paling sering dihadapi buruh industri adalah PHK tanpa pesangon akibat perusahaan mengabaikan kewajibannya. Karena itu KSBSI Kalbar mendesak penuntasan kasus-kasus PHK dan ketenagakerjaan yang masih menggantung. Aksi protes yang dilakukan parah buruh di Kalimantan Barat. Aksi tersebut dilakukan karena mereka ingin mencabut tuntutan Ketua Kadin mengenai pernyataannya tentang pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ribuan buruh-buruh pertambangan. Selain itu juga, para demonstran menginginkan pembubaran serikat buruh diberhentikan.
Kesimpulan :
Berdasarkan kasus tersebut menunjukkan bahwa para buruh mengalami stres sehingga mengekspresikannya dalam bentuk demonstrasi seperti itu. Stres itu sendiri merupakan ketidakmampuan mengatasi ancaman yang dihadapi oleh mental, fisik, emosional dan spiritual manusia. Stres juga dapat diartikan sebagai suatu persepsi terhadap situasi atau kondisi fisik lingkungan sekitar (Palupi 2003). Penyebab dilakukannya tindakan anarkis tersebut berdampak psikologis, yakni berdasarkan salah satu teori dasar motivasi hierarki kebutuhan oleh Abraham Masslow yakni yang merupakan teori motivasi yang terdiri dari 5 macam kebutuhan diantaranya fisiologis, keamanan, sosial, penghargaan dan aktualisasi diri. (Masslow, 1993). Akibat pemutusan hubungan kerja tersebut, para pekerja tidak dapat memenuhi 5 kebutuhan dasar tersebut, salah satunya kebutuhan fisiologi yakni berupa kebutuhan pangan, sandang dan papan. Diberhentikannya mereka, membuat para pekerja tidak dapat memperoleh uang untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Selain itu, juga kebutuhan akan penghargaan juga tidak dapat terpenuhi, karena pekerjaan yang mereka lakukan tidak dihargai dengan diberhentikannya mereka secara sepihak. Kasus ini juga dapat dikaitkan berdasarkan teori Herzberg, yang merupakan teori dua faktor yakni para pekerja dalam melakukan pekerjaannya dipengaruhi oleh dua faktor utama diantaranya adalah faktor pemeliharaan dan faktor motivasi. Kasus ini lebih ke dalam faktor motivasi, karena para buruh tersebut tidak lagi mendapatkan kebijakan yang baik dari perusahaan melainkan mereka mendapatkan kebijakan yang tidak adil yakni PHK. Para buruh yang mengetahui bahwa dirinya akan di PHK secara sepihak merasa tidak adil karena mereka sudah bekerja tapi tidak dihargai hasil kerja sampai di PHK secara sepihak. 

ARTIKEL STRESS  

Posted by: Unknown

Benarlah, bahwa hidup di hari-hari akhir zaman ini bagai memegang bara api. Alangkah panas dan terasa tak sanggup menggenggamnya erat-erat. Hampir tiap kita mengetahui, bahwa dunia hanyalah tempat singgah sementara. Dan tentu alangkah dungu bila seorang musafir justru terlena di tempat persinggahan menghabiskan bekal dan bersantai-santai riya, sementara tujuan utama yaitu negeri akhirat terlupakan begitu saja.
Ya.. kita memang tersibukkan oleh aktivitas dunia sedari membuka mata di pagi buta hingga menutup mata kembali di malam gelap gulita. Letih sekali rasa hati. Dunia saat dikejar, makin kita berlari, makin ia menghindar. Maka retweet untuk do’a syahdu Abu Bakar r.a., “ Yaa Allah, jadikanlah dunia ini di tanganku, dan jadikan akhirat di hatiku”. Hal ini mengisyaratkan Abu Bakar mengerti bahwa dunia tak boleh menguasai hatinya. Ia tak boleh diperalat oleh dunia. 
Hingga suatu ketika berkatalah Mu’awiyah r.a., “Abu Bakar adalah orang yang berpaling dari dunia dan dunia pun berpaling dari dirinya. Adapun Umar, dialah orang yang tak sudi pada dunia, tapi dunia datang bersimpuh menghiba di kakinya. Adapun kita adalah para pemburu dunia, yang kadang memperolehnya dan kadang ia pun luput dari kita.”
            Benar.. berbicara tentang dunia, tak akan temukan titiknya. Oleh karenanya, agar tidak meluas, memanjang dan melebar. Mari berbicara tentang hal spesifik dari dampak disibukkannya seseorang oleh dunia.. penyakit psikis ini kita sebut STRESS.
Penyakit ini sangat sering ditemui. Ia sederhana, tapi adalah hasil dari berbagai pikiran negatif yang kompleks. Ia tak pilih sesiapa untuk diakrabi. Tak terkecuali para dokter, psikolog atau mahasiswa seperti kami sekalipun. Saat merasa sesak nafas, tenggorokan seperti ditekan, jantung berdebar dan kaki terasa lemas. Jangan dulu membayangkan berbagai penyakit kronis. Mungkin, kita sedang dijangkit stress.
            Seperti kisah lucu satu ini yang benar-benar terjadi pada penulis sebulan lalu. Saat laporan observasi dan wawancara terasa menghantui dan mengejar-ngejar dalam mimpi, agaknya yang galau memang bukan penulis seorang diri, tapi ini stress masal anak Psikologi tingkat 3 Gunadarma ^^ penulis sendiri telah berhari-hari tidur tak teratur, sesekali mulai merasa sesak di dada, tenggorokan seperti di tekan, dan kaki terasa lemas berhari-hari. Hingga akhirnya penulis memutuskan untuk pergi ke Puskesmas, setelah diperiksa dan ditanya oleh dokter mengenai keluhan yang dirasa, keluarlah pertanyaan akhir sekaligus diagnosa dokter “mbak lagi stress ya?”. Maakkk jleebbb!!! :D
Ahh.. teringatlah pada kekata Ust. Fauzil Adhim “memang saat stress menyapa kadang kala kita butuh spasi atas rutinitas sehari-hari yang terus memacu kita untuk berlari, kita perlu mengambil jarak sejenak dari kesibukan yang membuat jiwa dan badan kita penat. Ada saat-saat ketika kita harus menemukan keheningan disaat bertambahnya berbagai ambisi, namun tidak menambah kedamaian dan ketenangan di hati kita. Ada saat-saat ketika kita perlu berdiam diri sejenak di saat bertambahnya kesibukan kita, justru semakin menyibukkan hati dan pikiran kita dari hiruk pikuknya dunia yang sesak. Ada saat-saat ketika kita perlu bertanya tentang iman kita dengan memerhatikan amalan kita”.
Maka ketika stress menghantui, mari lirik lagi kepada ambisi, cita, mimpi, idealisme diri dan pekerjaan yang kita geluti. Adakah ia jalan tuk mencari ridho-Nya? Adakah Allah motivasinya? Adakah surga akhirnya? Bila memang iya, tentu hanya dengan mengingatNya hati menjadi tenang :')

Dan ketika telah temukan jawab dari berbagai tanya diatas, perbaikan diri makin tak henti, ketenangan membersamai aktivitas tiap hari, dunia tak lagi di hati, Allah muara di tiap mimpi, dan tentunya stress dihadapi dengan solusi Islami. ^^

STRESS  

Posted by: Unknown

A.           1.      Definisi Stress
Menurut Wahjono (2010) stress adalah kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang. Stress yang terlalu berat akan mengancam kemampuan seseorang dalam mengahadi lingkungannya. Gejala-gejala stress biasanya sering marah, tidak dapat rileks, agresi, tidak kooperatif dan pelariannya adalah minum alkohol, merokok secara berlebihan, bahkan narkoba.
Menurut Robbins (2006) dalam Wahjono (2010) stress merupakan kondisi dinamik yang didalamnya individu mengalami peluang, kendala, atau tuntutan yang terkait dengan apa yang sangat diinginkan dan yang hasilnya dipersepsikan sebagai tidak pasti tepatnya penting. Stress dapat dilihat dari sisi negatif maupun dari sisi positif. Dari sisi posisitf, stress merupakan peluang bila stress menawarkan potensi perolehan dalam bentuk meningkatnya kinerja. Robbins menyebut beberapa konsekuensi dari stress yang juga dapat digunakan sebagai indikator untuk mengukur tingkat stress dalam organisasi. Beberapa indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat stress tersebut yaitu (1) gejala fisiologis, (2) gejala psikologis, (3) gejala perilaku.
2.      Sumber-sumber Stress
Ada beberapa faktor yang dididentifikasi sebagai potensi sumber stress Menurut Wahjono (2010) yaitu:
a. Faktor Lingkungan. Ketidakapstian lingkungan mempengaruhi perancangan struktur organisasi, ketidakpastian juga mempengaruhi tingkat stress dikalangan para karyawan dalam sebuah organisasi. Bentuk-bentuk ketidakpastian lingkungan ini antara lain, ketidakpastian ekonomi, ketidakpastian politik, ketidakpastian tekhnologi, dan ketidakpastian keamanan.
b.  Faktor Organisasi. Beberapa faktor organisasi yang menjadi potensi sumber stress antara lain:
1)   Tuntutan tugas dalam hal desain pekerjaan individu, kondisi kerja, dan tata letak kerja fisik.
2) Tuntutan peran yang berhubungan, dengan tekanan yang diberikan pada seseorang sebagai fungsi dari peran tertentu yang dimainkan dalam sebuah organisasi.
3) Tuntutan antar pribadi, yang merupakan tekanan yang diciptakan oleh karyawan lain seperti kurangnya dukungan sosial.
4)  Sruktur organisasi yang menentukan tingkat diferensiasi dalam organisasi, tingkat aturan dan peraturan, dan dimana keputusan itu diambil.
5)  Kepemimpinan organisasi yang terkait dengan gaya kepemimpinan atau manajerial dari eksekutif senior organisasi.
c.  Faktor Individu. Menyangkut dengan faktor-faktor dalam kehidupan pribadi individu. Faktor tersebut antara lain persoalan keluarga, ekonomi, dan kepribadian.
3.      Pendekatan Stress
a.   Pendekatan Individu
Banyak orang tidak mengelola waktunya dengan baik. Hal-hal yang harus mereka selesaikan dalam hari atau pekan tertentu seharusnya selesai jika mereka mengelola waktu dengan baik. Beberapa prinsip pengelolaan waktu yang lebih dikenal dengan: (1) membuat daftar harian dari kegiatan yang mau diselesaikan, (2) memprioritaskan kegiatan menurut penting dan urgensinya, (3) menjadwalkan kegiatan menurut perangkat prioritas, dan (4) mengethaui daur harian dan menangani bagian yang paling menuntut dari pekerjaan. Pelatihan fisik nonkompetitif seperti aerobik, berjalan, jogging, berenang dan bersepeda telah lama direkomendasikan oleh para dokter sebagai suatu cara untuk menangani tingkat stress yang berlebihan. Bentuk latihan fisik ini meningkatkan kapasitas jantung, menurunkan laju detak jantung, memberikan suatu pengalihan mental dari tekanan kerja dan menawarkan suatu cara untuk melepas energy. Individu dapat melatih diri untuk mengurang ketegangan lewat tekhnik pengenduran seperti meditasi, hipnosis, dan umpan balik hayati (biofeedback).
b.   Pendekatan Organisas
        Penerapan pendekatan ini dalam sebuah perusahaan dapat dilihat dari beberapa indikator yaitu adanya perbaikan mekanisme seleksi personil dan pendekatan kerja, pengunaan penetapan sasaran yang realitis, adanya perancangan ulang pekerjaan yang dapat memberikan karyawan kendali yang besar dalam pekerjaan yang mereka tekuni, adanya peningkatan keterlibatan karyawan dalam pengambilan keputusan, adanya perbaikan komunikasi organisas yang dapat mengurangi ambiguitas peran dan konflik peran, dan penegakkan program kesejahteraan korporasi yang memusatkan perhatian ppada keseluruhan kondisi fisik dan mental karyawan.


SUMBER: Wahjono, S. I. (2010). Perilaku Organisasi.Yogyakarta: Graha Ilmu.

KEKUASAAN  

Posted by: Unknown

1.   Definisi Kekuasaan
Kekuasaan (power) menurut Wahjono (2010) adalah kemampuan untuk menggunakan pengaruh pada orang lain dengan tujuan mengubah sikap atau tingkah laku individual atau kelompok dalam organisasi. Menurut Yuki dan Wexley (2005) kekuasaan (power) dapat didefinisikan sebagai kapasitas mempengaruhi perilaku orang lain. Seseorang mempunyai kekuasaan sepanjang terus dapat mempengaruhi tak peduli apakah usaha-usaha dilakukan itu benar-benar mempunyai pengaruh. Menurut Robbins (1996) kekuasaan (power) mengacu pada suatu kapasitas yang dimiliki A untuk mempengaruhi perilaku B, sehingga B melakukan sesuatu yang mau tidak mau harus dilakukan.
2.    Sumber-sumber Kekuasaan
Ivancevich, Konopaske, dan Matteson (2007) ada dua kategori kekuasaan dalam organisasi yaitu kekuasaan interpersonal dan struktural.  Dalam setiap kategori terdapat beberapa sumber kekuasaan yang spesifik.
a.    Kekuasaan Interpersonal
Dalam sebuah karya klasik mengenai manajemen dan perilaku organisasi, John French dan Bertram Raven mengajukan 5 sumber interpersonal  dari kekuasaan:
1) Kekuasaan Legitimasi (Legitimate Power). Kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain karena posisinya dalam organisasi. Kekuasaan legitimasi, atau sering juga disebut kekuataan posisi berasal dari jabatan yang diduduki orang tersebut. Artinya, organisasi mengizinkan individu yang memegang jabatan tertentu untuk mempengaruhi dan memerintah individu-individu lainnya. Kekuasaan formal inilah yang kita sebut sebagai otoritas (otority).
2) Kekuasaan Imbalan (Reward Power). Kekuasaan yang didasarkan pada kemampuan seseorang untuk memberikan imbalan pada pengikutnya yang menaati perintah. Kekuasaan imbalan digunakan untuk mendukung penggunaan kekuasaan legitimasi. Bila para bawahan menganggap imbalan yang ditawarkan cukup berharga (seperti pengakuan pemberian tugas yang menarik, kenaikan gaji, kesempatan untuk mengikuti program latihan, dll) mereka akan menyanggupi perintah, permohonan dan arahan. Mesti demikian perlu dicatat bahwa imbalan yang tidak memiliki nilai bagi individu tidak akan mempengaruhi perilaku.
3)   Kekuasaan Koersif (Coercive Power). Kebalikan dari kemampuan memberi imbalan yaitu kekuasaan untuk menghukum. Para pengikut atau bawahan Anda mungkin taat kepada Anda semata-mata karena takut. Seorang manajer bisa menghambat promosi atau mengkritik bawahanyang menunjukkan kinerja buruk. Praktik seperti itu, dan rasa takut yang ditimbulkannya, adalah bentuk kekuasaan koersif. Tentu saja, seseorang tidak perlu berada dalam posisi otoritas untuk menerapkan kekuasaan koersif.
4)  Kekuasaan Keahlian (Export Power). Ketika seseorang memiliki keahlian khusus yang sangat dihargai dalam sebuah organisasi. Para ahli atau pakar dalam suatu bidang tertentu bahkan dapat memiliki kekuasaan meskipun posisi formal mereka dalam organisasi sesungguhnya rendah. Kekuasaan keahlian adalah karakteristik personal, sedangkan kekuasaan legitimasi, kekuasaan imbalan, dan kekuasaan koersif adalah kekuasaan yang diberikan oleh organisasi.
5)  Kekuasaan Referensi (Referent Power). Adalah kekuasaan yang didasarkan pada identifikasi bawahan dengan seorang atasan. Seseorang yang memiliki karisma dikagumi karena karakteristik yang dia miliki. Kekuasaan karisma seseorang merupakan salah satu indikasi kekuasaan referensi. Karisma adalah istilah yang sering digunakan untuk mendeskripsikan sosok politikus, artis, ataupun atlet. Meski demikian, beberapa manajer dianggap karismatik oleh bawahannya.
b.      Kekuasaan Struktural
Setiap organisasi memiliki struktur yang khas, dan karenanya, kekuasaan didistribusikan dengan cara-cara yang berbeda. Organisasi-organisasi yang memiliki lapisan manajemen yang beragam dan struktur organisasi yang hierarkis mungkin memiliki distribusi kekuasaan yang mencolok (artinya, manajer-manajer tingkat atas memiliki kekuasaan yang jauh lebih tinggi dibandingkan para manajer dibawahnya). Ada beberapa bentuk kekuasaan struktural lain, yang berasal dari sumber daya, pengambilan keputusan, dan informasi.
1)  Sumber Daya. Kanter memberikan argumentasi yang kuat bahwa kekuasaan bersumber dari (1) akses terhadap sumber daya, informasi, dan dukungan, (2) kemampuan mendapatkan kerja sama yang dibutuhkan guna menyelesaikan tugas. Kekuasaan terjadi ketika seseorang memiliki jalur yang terbuka ke sumber daya uang, sumber daya manusia, tekhnologi, material, pelanggan, dan sebagainya. Dalam organisasi, sumber daya yang vital diturunkan melalui jalur hierarki.
2) Kekuasaan Pengambilan Keputusan. Sejauh mana pengaruh seorang individu atau sebuah subunit terhadap pengambilan keputusan mengindikasikan jumlah kekuasaan yang dimiliki orang atau subunit itu. Seorang individu atau sebuah subunit yang memiliki kekuasaan dapat mempengaruhi jalannyaproses pengambilan keputusan, mempengaruhi alternatif- alternatif yang perlu dipertimbangkan, dan mempengaruhi kapan keputusan diambil.
3)  Kekuasaan Informasi. Pengetahuan dianggap oleh beberapa pakar sebagai suatu hal yang jauh lebih bermakna dibanding apapun dalam struktur organisasi. Pengetahuan didefinisikan sebagai sebuah kesimpulan analisis yang disarikan dari data informasi. Data mencakup fakta-fakta, angka-angka statistik, dan hal-hal yang spesifik. Informasi adalah konteks dimana data diletakkan.

Sumber:

  •   Ivancevich, J. M., Konopaske, R., dan Matteson, M. T. (2007). Perilaku dan Manajemen Organisasi. Edisi ketujuh. Jilid 2. Diterjemahkan oleh: Dharma Yuwono, S.Psi. Jakarta: Penerbit Erlangga.
  •    Robbins, S. P. (1996). Perilaku Organisasi: Konsep, Kontrovesi, Aplikasi. Jilid 2. Diterjemahkan oleh: Dr. Hadyana Pujaatmaka. Jakarta: Prenhallindo.
  •      Wahjono, S. I. (2010). Perilaku Organisasi.Yogyakarta: Graha Ilmu.
  •    Yuki, G. A. dan Wexley, K. N. (2005). Perilaku Organisasi dan Psikologi Personalia. Cetakan ketiga. Diterjemahkan oleh: Drs. Muh. Shobaruddin. Jakarta: Rineka Cipta.